Pendahuluan
Jika kita mempelajari tentang asal mula kehidupan di bumi ini, maka kita akan dihadapkan pada dua pemahaman yang berbeda. Dua pemahaman itu yakni ilmu pengetahuan (sains) dan kepercayaan (religion). Ilmu pengetahuan selalu mengedepankan hasil pemikiran manusia semata-mata yang didasari oleh pengamatan-pengamatan, percobaan-percobaan dan hipotesa-hipotesa yang kadang-kadang terlalu memaksakan sifat materialisme. Sedangkan kepercayaan selalu dipandang sebagai pernyataan yang bersifat dogmatis atau sesuatu yang lebih bersifat dugaan daripada pengamatan panca indera, oleh karenanya kadang disebut sebagai tidak ilmiah, kuno, dsb.
Apakah benar demikian? Kalau kita cermati lebih dalam, maka ilmu pengetahuan yang tidak diajarkan dengan jujur maka maka ia akan lebih bersifat dogmatis daripada kepercayaan itu sendiri. Sebagai satu contohnya disini kita ungkapkan seperti Teori Evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin. Selama hampir satu setengah abad hingga sekarang ini teori evolusi diterima kalangan masyarakat ilmiah sebagai satu-satunya teori yang menerangkan asal mula kehidupan di bumi ini secara ilmiah. Dia berpendapat bahwa semua spesies yang ada di bumi ini berasal dari satu nenek moyang yang berevolusi secara perlahan-lahan dalam kurun waktu yang sangat panjang dan kemudian berubah menjadi spesies jenis lain lewat perubahan-perubahan kecil. Makhluk hidup muncul dari sebab-sebab yang serba kebetulan dan dari proses alamiah.
Akan tetapi perkembangan ilmu pengetahuan lewat temuan-temuan ilmiah pada beberapa dasawarsa terakhir ini justeru tidak mendukung teori ini, seperti temuan dalam bidang biokimia, biofisika, paleontologi, geokimia, dll. Dalam kenyataannya teori evolusi ini tetap didukung oleh kalangan ilmiah walaupun bertentangan dengan temuan-temuan ilmiah itu sendiri. Disinilah kita kadang melihat bahwa ilmu pengetahuan itu sendiri lebih bersifat dogmatis daripada kepercayaan.
Kepercayaan, yang dilandasi oleh keimanan yang benar akan mampu menerangkan asal mula kehidupan ini secara lebih ilmiah daripada ilmu pengetahuan yang tidak diajarkan dengan jujur dan benar. Islam sebagai agama yang "rahmatan lil 'alamin" telah mengajarkan tentang penciptaan alam semesta ini yang tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Apabila kita mau memikirkan tanda-tanda di alam semesta ini, maka kita akan sampai pada satu kesimpulan bahwa alam semesta ini begitu teratur dan tertata rapi, seolah-olah ada satu kekuatan Maha Besar yang mengatur dan mengendalikannya. Dan memang benar demikianlah halnya. Ilmu pengetahuan yang dilandasi dengan keimananlah yang hanya dapat menerima kenyataan-kenyataan yang ada di alam itu dengan mengagungkan kebesaran kekuasaan Tuhan atas segala makhluk di jagat raya ini. Tetapi sebaliknya, ilmu pengetahuan yang hanya dilandasi akal pikiran saja dan oleh nafsu duniawi tidak akan mampu sampai pada kesimpulan akhir tentang asal mula kehidupan di bumi ini. Akan selalu muncul pro dan kontra terhadap teori-teori yang menjelaskan asal-usul kehidupan ini, karena pada kenyataannya memang akal pikiran manusia itu ada batasnya. Dan ilmu pengetahuan manusia tidak akan mampu meliputi ilmu Allah.
Jika kita mempelajari tentang asal mula kehidupan di bumi ini, maka kita akan dihadapkan pada dua pemahaman yang berbeda. Dua pemahaman itu yakni ilmu pengetahuan (sains) dan kepercayaan (religion). Ilmu pengetahuan selalu mengedepankan hasil pemikiran manusia semata-mata yang didasari oleh pengamatan-pengamatan, percobaan-percobaan dan hipotesa-hipotesa yang kadang-kadang terlalu memaksakan sifat materialisme. Sedangkan kepercayaan selalu dipandang sebagai pernyataan yang bersifat dogmatis atau sesuatu yang lebih bersifat dugaan daripada pengamatan panca indera, oleh karenanya kadang disebut sebagai tidak ilmiah, kuno, dsb.
Apakah benar demikian? Kalau kita cermati lebih dalam, maka ilmu pengetahuan yang tidak diajarkan dengan jujur maka maka ia akan lebih bersifat dogmatis daripada kepercayaan itu sendiri. Sebagai satu contohnya disini kita ungkapkan seperti Teori Evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin. Selama hampir satu setengah abad hingga sekarang ini teori evolusi diterima kalangan masyarakat ilmiah sebagai satu-satunya teori yang menerangkan asal mula kehidupan di bumi ini secara ilmiah. Dia berpendapat bahwa semua spesies yang ada di bumi ini berasal dari satu nenek moyang yang berevolusi secara perlahan-lahan dalam kurun waktu yang sangat panjang dan kemudian berubah menjadi spesies jenis lain lewat perubahan-perubahan kecil. Makhluk hidup muncul dari sebab-sebab yang serba kebetulan dan dari proses alamiah.
Akan tetapi perkembangan ilmu pengetahuan lewat temuan-temuan ilmiah pada beberapa dasawarsa terakhir ini justeru tidak mendukung teori ini, seperti temuan dalam bidang biokimia, biofisika, paleontologi, geokimia, dll. Dalam kenyataannya teori evolusi ini tetap didukung oleh kalangan ilmiah walaupun bertentangan dengan temuan-temuan ilmiah itu sendiri. Disinilah kita kadang melihat bahwa ilmu pengetahuan itu sendiri lebih bersifat dogmatis daripada kepercayaan.
Kepercayaan, yang dilandasi oleh keimanan yang benar akan mampu menerangkan asal mula kehidupan ini secara lebih ilmiah daripada ilmu pengetahuan yang tidak diajarkan dengan jujur dan benar. Islam sebagai agama yang "rahmatan lil 'alamin" telah mengajarkan tentang penciptaan alam semesta ini yang tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Apabila kita mau memikirkan tanda-tanda di alam semesta ini, maka kita akan sampai pada satu kesimpulan bahwa alam semesta ini begitu teratur dan tertata rapi, seolah-olah ada satu kekuatan Maha Besar yang mengatur dan mengendalikannya. Dan memang benar demikianlah halnya. Ilmu pengetahuan yang dilandasi dengan keimananlah yang hanya dapat menerima kenyataan-kenyataan yang ada di alam itu dengan mengagungkan kebesaran kekuasaan Tuhan atas segala makhluk di jagat raya ini. Tetapi sebaliknya, ilmu pengetahuan yang hanya dilandasi akal pikiran saja dan oleh nafsu duniawi tidak akan mampu sampai pada kesimpulan akhir tentang asal mula kehidupan di bumi ini. Akan selalu muncul pro dan kontra terhadap teori-teori yang menjelaskan asal-usul kehidupan ini, karena pada kenyataannya memang akal pikiran manusia itu ada batasnya. Dan ilmu pengetahuan manusia tidak akan mampu meliputi ilmu Allah.
Air
Apakah Ilmu Pengetahuan Menipu Kita?
Amat banyak keanehan-keanehan dan keganjilan-keganjilan yang kita temui dari cara ilmu pengetahuan menjelaskan tentang asal-usul kehidupan di jagat ini. Salah satu contoh yang akan kita bahas disini adalah tentang asal mula air dan lautan di bumi ini. Ada banyak teori yang menjelaskan tentang asal mula air dan laut di bumi. Salah satunya adalah air berasal dari luar angkasa. Carl Sagan, astronom terkenal yang menulis buku-buku dengan bahasa puitis tentang jagat raya dan bumi pernah menulis "we are made of star-stuff". Begitulah, sebab menurut astronomi bumi kita terbentuk dari puing-puing kosmik sisa ledakan bintang.
Bumi terbentuk dengan sedikit sekali air, atau tanpa air sama sekali. Air di bumi berasal dari komet yang terkenal punya es beku di kepalanya dan dari beberapa asteroid yang mengandung air(hydrous asteroids). Kuiper belts di sebelah luar orbit Neptunus, atau Awan Oort di tepi tata surya terkenal sebagai rumah para komet dan benda angkasa lainnya yang mengandung air yang rajin mengunjungi bumi pada saat-saat awal pembentukannya.
Air dibawa ke bumi diperkirakan 4 milyar tahun yang lalu melalui "intense bombardement of the inner solar system". Semua planet dalam tata surya mengalami bombardemen seru diperiode ini. Antara lain, peristiwa yang di astronomi disebut "Lunar Cataclysm", periode ketika bulan begitu di bombardemen sehingga permukaannya penuh impact craters seperti sekarang.
Kalau kita cermati alur cerita di atas maka akan tampaklah keanehan-keanehan dan keganjilan-keganjilan yang nyata. Seperti kita ketahui bahwa air merupakan hasil persenyawaan antara unsur Hidrogen (H) dan unsur Oksigen (O) yang berikatan dan membentuk molekul H2O. Di dalam ruangan hampa udara maka apakah dapat dijumpai unsur oksigen? Bumi kita ini merupakan planet yang yang unik sekali. Hanya di bumilah dapat dijumpai unsur oksigen, dan oksigen itu yang membuat bumi kita hidup disamping air tentunya. Di luar bumi ini yang kita jumpai adalah ruang hampa udara. Maka jangan mengharapkan akan menjumpai tanda-tanda kehidupan di luar bumi. Jika ada yang mengatakan bahwa ada komet yang mengandung air, maka itulah kebohongan yang nyata. Air di ruang hampa udara akan segera menguap dan tidak menyisakan suatu apapun.
Keanehan yang kedua dari cerita di atas bahwa komet yang jatuh ke bumi dan membawa air, lalu apa yang menahan air itu menetap di bumi? Dan tidak menguap di angkasa? Tentu saja atmosfir bumi. Lalu kapan atmosfir itu terbentuk? Bukankah atmosfer itu terbentuk karena adanya air? Mana yang lebih dulu antara atmosfir dan timpukan meteor-meteor itu?
Kalau kita bayangkan bahwa bumi kondisinya sama seperti bulan, maka timpukan-timpukan meteor yang mengandung air itu tidak akan ada pengaruhnya bagi bumi. Bulan, yang juga kena timpuk meteor itu tidak dijumpai air. Apa pasal? Tentu saja karena bulan tidak mempunyai atmosfir. Kalau kita bayangkan bumi kondisinya seperti sekarang ini adanya, maka tentu ceritanya akan lain. Bumi mempunyai atmosfir, dan atmosfir itu yang bertugas menghadang benda-benda langit yang jatuh ke bumi. Benda-benda langit itu akan terbakar oleh atmosfir bumi sebelum mendarat di bumi. Hal itu juga berlaku bagi komet-komet yang katanya mengandung air itu. Lalu kalau sudah terbakar maka masih adakah kandungan airnya yang mampu membentuk lautan di bumi ini?
Mengapa Air di Bumi ini Jumlahnya Tetap?
Kalau kita rangkaikan cerita-cerita ilmiah di atas dengan kenyataan yang ada di bumi, maka terdapatlah suatu mata rantai yang hilang dari hal-ihwal tentang air itu. Menurut cerita ilmiah itu, air terbentuk di bumi dibawa oleh sumber lain di angkasa (lewat meteor). Proses ini berlangsung sejak awal pembentukan bumi dan berakhir sekitar 3.8 milyar tahun yang lalu. Jadi sekarang ini sudah tidak ada lagi air kiriman dari luar angkasa itu.
Namun jika kita lihat kenyataan yang ada sekarang ini jumlah/volume air di bumi ini tidak berkurang sedikitpun. Inilah hal yang sangat aneh dari cerita di atas. Bagaimana bisa air itu jumlahnya tetap dan tidak berkurang sedikit juapun. Padahal kita ketahui bahwa kehidupan ini tidak dapat berlangsung tanpa adanya air. Semua makhluk hidup hanya dapat tumbuh dan berkembang dengan memerlukan air. Jika kita hitung berapa banyak air yang kita minum setiap hari untuk menopang kehidupan kita, berapa banyak air yang diperlukan untuk dapat menumbuhkan sebatang pohon di hutan dari mulai kecil sampai tumbuh besar dan berumur ratusan tahun. Jika kita mau menghitung jumlah total air yang diperlukan untuk keberlangsungan kehidupan bumi ini dari awal terbentuknya sampai kiamat nanti, maka hasilnya akan sangat fantastis. Padahal kehidupan ini tidak bisa menciptakan air dan sebaliknya malah menghabiskan air. Dan menurut logika ilmu pengetahuan bahwa sesuatu yang dikurangi terus-menerus tanpa adanya penambahan maka yang ada adalah kepunahan.
Akan tetapi tidak. Lalu bagaimana ilmu pengetahuan menjelaskan tentang fenomena ini? Para ilmuwan menjelaskan fenomena ini dengan cerita tentang daur hidrologi (siklus air). Tetapi daur hidrologi ini tidak bisa menjawab pertanyaan di atas, dan hanya menerangkan bagaimana air itu berputar-putar di bumi tanpa kesudahan. Dan bahwa dalam cerita tentang siklus hidrologi itu terdapat suatu kebohongan yang besar.
Siklus hidrologi itu terjadi akibat pengaruh sinar matahari. Matahari memancarkan seluruh energi panasnya ke permukaan bumi. Air yang ada di laut, sungai dan danau mengalami penguapan atau evaporasi dengan bantuan sinar matahari. Selain penguapan pada tempat-tempat tersebut, air yang ada di daun tumbuhan ataupun permukaan tanah juga mengalami penguapan yang dinamakan transpirasi. Uap-uap air tersebut kemudian akan mengalami proses kondensasi atau pemadatan yang akhirnya menjadi awan.
Awan-awan itu akan bergerak ke tempat yang berbeda dengan bantuan hembusan angin, baik secara vertikal maupun horizontal. Gerakan angin vertikal ke atas menyebabkan awan bergumpal. Gerakan angin tersebut menyebabkan gumpalan awan semakin membesar dan saling tindih-menindih hingga akhirnya gumpalan awan tersebut berhasil mencapai atmosfir yang bersuhu lebih dingin. Di sinilah butiran-butiran air dan es mulai terbentuk. Lama-kelamaan angin tidak dapat lagi menopang beratnya awan hingga awan yang sudah berisi air ini mengalami presipitasi atau proses jatuhnya hujan ke bumi.
Cerita tentang siklus hidrologi tersebut di atas hanya menjelaskan tentang bagaimana proses perputaran air di muka bumi ini tanpa bisa menjelaskan bagaimana air itu dapat tetap jumlahnya tanpa berkurang sedikitpun padahal penggunaan air itu berlangsung terus-menerus dan tanpa penambahan sedikitpun. Dan bahwa cerita tentang siklus hidrologi itu terdapat suatu kebohongan adalah begini:
Air yang ada di lautan dipanaskan oleh sinar matahari sehingga terjadi penguapan. Artinya air yang tadinya berupa zat cair berubah wujud akibat pengaruh sinar matahari menjadi uap-uap air. Padahal dalam ilmu fisika yang dapat kita pelajari di sekolah menyatakan bahwa perubahan wujud air itu yang tadinya berupa zat cair menjadi gas (uap air) membutuhkan suhu 100 derajat Celsius. Karena titik didih air memang pada angka sekian derajat tersebut. Hal itu juga terjadi saat kita menjerang air. Air akan mendidih apabila sudah mencapai suhu tersebut.Pada kenyataannya apakah sinar matahari itu akan dapat mendidihkan lautan?
Ada lagi ahli ilmu pengetahuan yang menulis tentang siklus hidrologi yang mendasari tulisannya dengan pengetahuan yang disarikan dari ayat-ayat suci Al Qur'an. Kami tidak/belum sepaham dengan pendapat ahli kita ini dikarenakan beberapa hal. Tulisan tersebut dapat kami cuplikkan demikian:
Amat banyak keanehan-keanehan dan keganjilan-keganjilan yang kita temui dari cara ilmu pengetahuan menjelaskan tentang asal-usul kehidupan di jagat ini. Salah satu contoh yang akan kita bahas disini adalah tentang asal mula air dan lautan di bumi ini. Ada banyak teori yang menjelaskan tentang asal mula air dan laut di bumi. Salah satunya adalah air berasal dari luar angkasa. Carl Sagan, astronom terkenal yang menulis buku-buku dengan bahasa puitis tentang jagat raya dan bumi pernah menulis "we are made of star-stuff". Begitulah, sebab menurut astronomi bumi kita terbentuk dari puing-puing kosmik sisa ledakan bintang.
Bumi terbentuk dengan sedikit sekali air, atau tanpa air sama sekali. Air di bumi berasal dari komet yang terkenal punya es beku di kepalanya dan dari beberapa asteroid yang mengandung air(hydrous asteroids). Kuiper belts di sebelah luar orbit Neptunus, atau Awan Oort di tepi tata surya terkenal sebagai rumah para komet dan benda angkasa lainnya yang mengandung air yang rajin mengunjungi bumi pada saat-saat awal pembentukannya.
Air dibawa ke bumi diperkirakan 4 milyar tahun yang lalu melalui "intense bombardement of the inner solar system". Semua planet dalam tata surya mengalami bombardemen seru diperiode ini. Antara lain, peristiwa yang di astronomi disebut "Lunar Cataclysm", periode ketika bulan begitu di bombardemen sehingga permukaannya penuh impact craters seperti sekarang.
Kalau kita cermati alur cerita di atas maka akan tampaklah keanehan-keanehan dan keganjilan-keganjilan yang nyata. Seperti kita ketahui bahwa air merupakan hasil persenyawaan antara unsur Hidrogen (H) dan unsur Oksigen (O) yang berikatan dan membentuk molekul H2O. Di dalam ruangan hampa udara maka apakah dapat dijumpai unsur oksigen? Bumi kita ini merupakan planet yang yang unik sekali. Hanya di bumilah dapat dijumpai unsur oksigen, dan oksigen itu yang membuat bumi kita hidup disamping air tentunya. Di luar bumi ini yang kita jumpai adalah ruang hampa udara. Maka jangan mengharapkan akan menjumpai tanda-tanda kehidupan di luar bumi. Jika ada yang mengatakan bahwa ada komet yang mengandung air, maka itulah kebohongan yang nyata. Air di ruang hampa udara akan segera menguap dan tidak menyisakan suatu apapun.
Keanehan yang kedua dari cerita di atas bahwa komet yang jatuh ke bumi dan membawa air, lalu apa yang menahan air itu menetap di bumi? Dan tidak menguap di angkasa? Tentu saja atmosfir bumi. Lalu kapan atmosfir itu terbentuk? Bukankah atmosfer itu terbentuk karena adanya air? Mana yang lebih dulu antara atmosfir dan timpukan meteor-meteor itu?
Kalau kita bayangkan bahwa bumi kondisinya sama seperti bulan, maka timpukan-timpukan meteor yang mengandung air itu tidak akan ada pengaruhnya bagi bumi. Bulan, yang juga kena timpuk meteor itu tidak dijumpai air. Apa pasal? Tentu saja karena bulan tidak mempunyai atmosfir. Kalau kita bayangkan bumi kondisinya seperti sekarang ini adanya, maka tentu ceritanya akan lain. Bumi mempunyai atmosfir, dan atmosfir itu yang bertugas menghadang benda-benda langit yang jatuh ke bumi. Benda-benda langit itu akan terbakar oleh atmosfir bumi sebelum mendarat di bumi. Hal itu juga berlaku bagi komet-komet yang katanya mengandung air itu. Lalu kalau sudah terbakar maka masih adakah kandungan airnya yang mampu membentuk lautan di bumi ini?
Mengapa Air di Bumi ini Jumlahnya Tetap?
Kalau kita rangkaikan cerita-cerita ilmiah di atas dengan kenyataan yang ada di bumi, maka terdapatlah suatu mata rantai yang hilang dari hal-ihwal tentang air itu. Menurut cerita ilmiah itu, air terbentuk di bumi dibawa oleh sumber lain di angkasa (lewat meteor). Proses ini berlangsung sejak awal pembentukan bumi dan berakhir sekitar 3.8 milyar tahun yang lalu. Jadi sekarang ini sudah tidak ada lagi air kiriman dari luar angkasa itu.
Namun jika kita lihat kenyataan yang ada sekarang ini jumlah/volume air di bumi ini tidak berkurang sedikitpun. Inilah hal yang sangat aneh dari cerita di atas. Bagaimana bisa air itu jumlahnya tetap dan tidak berkurang sedikit juapun. Padahal kita ketahui bahwa kehidupan ini tidak dapat berlangsung tanpa adanya air. Semua makhluk hidup hanya dapat tumbuh dan berkembang dengan memerlukan air. Jika kita hitung berapa banyak air yang kita minum setiap hari untuk menopang kehidupan kita, berapa banyak air yang diperlukan untuk dapat menumbuhkan sebatang pohon di hutan dari mulai kecil sampai tumbuh besar dan berumur ratusan tahun. Jika kita mau menghitung jumlah total air yang diperlukan untuk keberlangsungan kehidupan bumi ini dari awal terbentuknya sampai kiamat nanti, maka hasilnya akan sangat fantastis. Padahal kehidupan ini tidak bisa menciptakan air dan sebaliknya malah menghabiskan air. Dan menurut logika ilmu pengetahuan bahwa sesuatu yang dikurangi terus-menerus tanpa adanya penambahan maka yang ada adalah kepunahan.
Akan tetapi tidak. Lalu bagaimana ilmu pengetahuan menjelaskan tentang fenomena ini? Para ilmuwan menjelaskan fenomena ini dengan cerita tentang daur hidrologi (siklus air). Tetapi daur hidrologi ini tidak bisa menjawab pertanyaan di atas, dan hanya menerangkan bagaimana air itu berputar-putar di bumi tanpa kesudahan. Dan bahwa dalam cerita tentang siklus hidrologi itu terdapat suatu kebohongan yang besar.
Siklus hidrologi itu terjadi akibat pengaruh sinar matahari. Matahari memancarkan seluruh energi panasnya ke permukaan bumi. Air yang ada di laut, sungai dan danau mengalami penguapan atau evaporasi dengan bantuan sinar matahari. Selain penguapan pada tempat-tempat tersebut, air yang ada di daun tumbuhan ataupun permukaan tanah juga mengalami penguapan yang dinamakan transpirasi. Uap-uap air tersebut kemudian akan mengalami proses kondensasi atau pemadatan yang akhirnya menjadi awan.
Awan-awan itu akan bergerak ke tempat yang berbeda dengan bantuan hembusan angin, baik secara vertikal maupun horizontal. Gerakan angin vertikal ke atas menyebabkan awan bergumpal. Gerakan angin tersebut menyebabkan gumpalan awan semakin membesar dan saling tindih-menindih hingga akhirnya gumpalan awan tersebut berhasil mencapai atmosfir yang bersuhu lebih dingin. Di sinilah butiran-butiran air dan es mulai terbentuk. Lama-kelamaan angin tidak dapat lagi menopang beratnya awan hingga awan yang sudah berisi air ini mengalami presipitasi atau proses jatuhnya hujan ke bumi.
Cerita tentang siklus hidrologi tersebut di atas hanya menjelaskan tentang bagaimana proses perputaran air di muka bumi ini tanpa bisa menjelaskan bagaimana air itu dapat tetap jumlahnya tanpa berkurang sedikitpun padahal penggunaan air itu berlangsung terus-menerus dan tanpa penambahan sedikitpun. Dan bahwa cerita tentang siklus hidrologi itu terdapat suatu kebohongan adalah begini:
Air yang ada di lautan dipanaskan oleh sinar matahari sehingga terjadi penguapan. Artinya air yang tadinya berupa zat cair berubah wujud akibat pengaruh sinar matahari menjadi uap-uap air. Padahal dalam ilmu fisika yang dapat kita pelajari di sekolah menyatakan bahwa perubahan wujud air itu yang tadinya berupa zat cair menjadi gas (uap air) membutuhkan suhu 100 derajat Celsius. Karena titik didih air memang pada angka sekian derajat tersebut. Hal itu juga terjadi saat kita menjerang air. Air akan mendidih apabila sudah mencapai suhu tersebut.Pada kenyataannya apakah sinar matahari itu akan dapat mendidihkan lautan?
Ada lagi ahli ilmu pengetahuan yang menulis tentang siklus hidrologi yang mendasari tulisannya dengan pengetahuan yang disarikan dari ayat-ayat suci Al Qur'an. Kami tidak/belum sepaham dengan pendapat ahli kita ini dikarenakan beberapa hal. Tulisan tersebut dapat kami cuplikkan demikian: